Konfigurasi 2 Virtual Switch pada VMware ESXi 5.0.0

PC/Server dengan NIC lebih dari 1.

Pada umumnya PC atau Server jaman sekarang sudah dilengkapi dengan NIC lebih dari satu buah. Hal tersebut sangat berguna apabila PC atau server akan dimanfaatkan/difungsikan sebagai server yang menangani 2 jaringan terpisah (Proxy, Router, Bridge, dll).

Dalam percobaan saya ini, saya menggunakan sebuah server dari IBM 3250 Series yang mempunyai 2 NIC On Board yang akan di-install VMware VSphere ESXi 5.0.0.

VMware: 2 NIC untuk Load Balance

Pada saat instalasi VMware, saya langsung mengaktifkan kedua NIC dengan harapan masing-masing NIC akan saya hubungkan ke network yang berbeda (seperti yang biasanya saya lakukan apabila melakukan instalasi OS).

Ternyata yang terjadi adalah kedua NIC tersebut hanya bisa mengenali satu network saja, dan NIC kedua hanya bisa difungsikan sebagai Network Load Balance.

VMware: pemisahan jaringan

Untuk itu perlu dilakukan trik agar kedua NIC tersebut dapat difungsikan untuk network yang berbeda.
Pada saat instalasi VMware, lakukan instalasi hanya pada NIC pertama saja (vmnic0) sehingga yang dikenal hanya 1 NIC, dan akan terbentuk vSwitch0 saja yang akan menangani VM Port Group dan VM Kernel Port

VMware: aktifkan NIC kedua
Setelah proses instalasi VMware berjalan sukses, lakukan penambahan  perangkat jaringan dengan meng-klik Add Networking 


maka akan muncul menu sebagai berikut:


VMware: Add Network Wizard

Install VMkernel (Virtual Kernel)
Pilih Virtual Kernel, lalu klik Next



Pilih klik Next, lalu masukkan Network Label, lalu klik Next

Masukkan IP Address, Subnet Mask, dan Default Gateway, lalu klik Next

maka vSwitch sudah siap digunakan.




Install Virtual Machine (Virtual Machine)
Pilih Virtual Kernel, lalu klik Next


klik Next, lalu masukkan Network Label, lalu klik Next, dan proses pembuatan Virtual Machine selesai.

Hasil Akhir dari proses di atas adalah seperti di bawah ini :


akan tampak 2 vSwitch dengan masing-masih switch mengarah ke jaringan yang berbeda.

setelah itu barulah dilakukan instalasi Virtual Machine yang bisa berupa OS Windows, Linux, dll.


Belajar Ubuntu

Seiring dengan berkembang dan bervariasinya teknologi Informasi, saya coba untuk menggunakan salah satu varian Linux yang “mendekati” tampilan Windows, yaitu Ubuntu Desktop. Tujuannya selain mendapat gambaran lengkap tentang Linux, juga mau ambil keuntungan dari “GRATIS”an nya 🙂

Ubuntu Desktop
Alasan memilih Ubuntu adalah kebanyakan dari fungsi yang ada di Windows ada juga di Ubuntu, termasuk Office Automation-nya, yaitu LibreOffice (sebelumnya OpenOffice).
Untuk menyesuaikan diri ke Ubuntu, tidak terlalu banyak kerepotan yang dihadapi, apalagi untuk versi-versi terakhir, bahkan sampai ke setting jaringan dan lain-lain.

Bagi yang belum berani meng-install Ubuntu secara penuh di PC/Laptop nya, dapat menggunakan VirtualBox, atau melakukan instalasi parallel dengan Windows yang sudah ada.
Pilihan pertama (menggunakan VirtualBox) lebih mudah karena bila ada masalah pada instalasi Ubuntu maka kita tinggal hapus saja, lalu install ulang lagi, sampai bosen, sampai mabok, sampai pinter :).

Sebelum mahir, saya makin tertantang untuk mencoba lebih dari sekedar desktop, maka langkah berikut adalah mencoba Ubuntu Server.

Ubuntu Server
Ubuntu Desktop tidak terlalu sulit dipelajari karena GUI nya mantab.com, dari fresh installation bisa langsung ngacir….
Nah waktu mau belajar Ubuntu Server, mulai deh muncul penyakit males karena ternyata harus pakai ngetik command di promt nya. Hadeh…. 🙁 terpaksa istirahat dulu karena serem banget yak, harus kembali ke era tingkat 1 kuliah, Ngetik command??? hari gini ??? ck ck ck
Tapi karena gaya nekad, saya install juga deh Ubuntu Server.
Sukses instalasi, mulai bingung, buat apa nih si server? Yang paling gampang install web server, trus install Joomla, dan seterusnya.
Mulai deh pikiran menghayal kemana-mana, bikin apa lagi nih ?
Akhirnya mau coba bikin mail server. Haduh…. ampun, banyak banget perintahnya 🙁 Namun – kembali lagi – dengan gaya pede abisss, mulailah mengetik baris perintah pertama, yaitu perintah download …. dan … voila !!!! I already have my own mail server with my own domain purwoko-edi.com !!!!

“Kemudahan” (aslinya sih “kepusingan”) yang saya hadapi ternyata malah menjadikan saya lebih yakin kalau Linux itu mudah dipelajari, buktinya saya yang level skill nya pas KKM bisa juga mengendalikan Linux Ubuntu.
Apalagi di versi-versi terakhir, Ubuntu Desktop dan Ubuntu Server dibangun dari source (kernel) yang sama 🙂 (itu kata ubuntu.com lho, bukan kata saya).

VirtualMachine
Kalau sudah mulai pusing dengan instalasi yang macam-macam, mari kita coba buat beberapa Server Ubuntu dalam satu fisik dengan menggunakan VMWare. Tujuan dari penggunaan VMWare adalah agar setiap setting dapat dicoba dengan berbagai konfigurasi yang berbeda, juga bisa sebagai simulasi seandainya kita mempunyai banyak Server.

Saya kembali teringat kepada apa yang disampaikan oleh OM Onno W. Purbo bahwa “Windows adalah Windows, Linux adalah Linux, mereka bukan alternatif dari salah satunya”.

menjalankan 2 website dalam 1 mesin (berbeda port)

Seorang teman saya mencoba membuat aplikasi berbasis web dalam sebuah server, dan berhasil 🙂
Permasalahan muncul saat teman saya membuat aplikasi kedua dengan basis web juga, dan ingin di-install di mesin server yang sama.
Untuk itu buatlah beberapa website dengan port yang berbeda, boleh dalam IIS, atau apache.
Kalau di IIS, buat website, tentukan direktori tempat halaman web diletakkan, lalu tentukan port yang akan digunakan, misal 8080, 8088, 8000, dll.
setelah itu silahkan dicoba dengan metode http://localhost:8080, http://localhost:8088http://localhost:8000, dll
Selamat mencoba 🙂

menjadikan PC di rumah sebagai WEB dan FTP server dan mengaksesnya dari internet

Ternyata PC kita yang sedang terhubung ke internet (home internet access) bisa diakses lewat PC lain.
Cara akses yg dimaksud adalah dengan mengaktifkan webserver di PC rumah, lalu diakses seperti webserver pada umumnya.
Kalau diakses dengan port standard webserver  (port 80) ternyata tidak bisa, untuk itu perlu dicoba dengan port lainnya, seperti port 8080, 8000, atau port lainnya yang tidak ditetapkan untuk fungsi lainnya, misal 21, 3306, dll.
Proses yang saya lakukan sbb :
  • pilih aplikasi webserver, bisa IIS, atau Apache, atau webserver lainnya yang bisa dirubah port-nya

  • tentukan service web nya menggunakan port selain 80, saya coba dengan port 8080

  • ketahui ip address dari PC yang dijadikan percobaan dengan mengetik ipconfig (untuk os windows) atau ifconfig (untuk os linux), misalnya ip yang didapat adalah 10.10.10.103

  • setelah itu menggunakan PC lain lakukan akses pc pertama menggunakan browser dengan cara ketik http://10.10.10.103:8080, jangan lupa ketik portnya 8080 diawali dengan tanda titik dua

  • kalau memang sistem webservernya benar, maka akan muncul webpage dari PC yang dibuat sebelumnya.
  • Setelah itu kita bisa coba akses PC tersebut melalui internet, contohnya dapat dilihat sepertii di bawah ini :


Seandainya di rumah kita terdapat beberapa PC yang akan dipublikasikan ke Internet, bisa memanfaatkan Wireless Router sebagai alat bantu seperti gambar di bawah ini :


Dalam contoh di atas, terdapat 1 PC dengan IP 10.10.10.105. PC tersebut menjalankan service web server dan FTP Server dengan port yang berbeda.


Untuk FTP Server, saya gunakan Port 8021, dan agar dapat dibaca menggunakan browser, aktifkan Passive Mode di FTP Server.



Setelah FTP Servernya dikonfigurasi dengan benar, maka kita dapat mengaksesnya dari browser dengan contoh sebagai berikut :


Sedangkan untuk melakukan upload/download dari FTP server tersebut dapat menggunakan FTP Client seperti gambar berikut:



Service FTP dari rumah Anda dapat melayani Download dan Upload seperti pada server FTP pada umumnya